Senin, 30 November 2015




Suwarno
PPS Desa Kalimanah Wetan



PRODUKSI MENINGKAT
BERKAH TERSEMBUNYI  DARI  KELANGKAAN PUPUK UREA

Tahun ini petani kembali mengalami kesulitan memperoleh pupuk urea bersubsidi.  Pada pertengahan bulan Juni sampai awal bulan Juli, petani harus berjibaku agar tanaman padinya bisa dipupuk tepat waktu.  “Saya harus mencari pupuk sampai ke wilayah lain, agar bisa memupuk tanaman padi tepat waktu” Kata Suwarno, Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) Desa Kalimanah Wetan Kecamatan Kalimanah.  “Kalo tidak seperti itu, nanti telat dan bisa mupuk padi pada umur 40 hari, itu yang terjadi pada petani petani disini”  lanjutnya. 

Beruntung sebagai petani yanmg telah menerapkan pola PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) sehingga petani maju yang juga pengusaha penggilingan padi tidak begitu terganggu dengan kelangkaan pupuk urea, karena dia sudah menggunakan pupuk organik dan juga pupuk majemuk NPK (merek phonska).  Menurutnya, sulitnya memperoleh pupuk urea telah membuat penggunaan pupuk NPK meningkat, baik saat pemupukan pertama maupun pemupukan susulan.  “Tadinya kebanyakan petani sudah minded menggunkan pupuk urea, bahkan dosinya bisa mencapai 500 kg per hektar, dan enggan menggunakan pupuk P dan K”  Kata Suwarno berapi api.  “Dengan adanya kelangkaan pupuk, mereka terpaksa menggunakan pupuk NPK untuk tanaman padinya, karena mudah diperoleh di toko pengecer” Lanjutnya. 

Kelangkaan pupuk urea pada tahun ini di Kecamatan Kalimanah, ternyata telah menjadi berkah tersembunyi bagi petani.  Pada saat musim panen padi musim Sadon (MK 1) rata-rata produktivitas padi meningkat, demikian disampaikan oleh Farid Wajdi, SP, Kepala BPK Kalimanah pada berbagai kesempatan.  Pada musim tanam selanjutnya diharapkan petani tidak hanya menggantungkan kebutuhan pupuknya pada pupuk urea, tetapi sudah melakukan pemupukan berimbang, sehingga produktivitasnya meningkat.  (HP 002)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar