Suwarno
PPS Desa
Kalimanah Wetan
PRODUKSI
MENINGKAT
BERKAH
TERSEMBUNYI DARI KELANGKAAN PUPUK UREA
Tahun ini petani
kembali mengalami kesulitan memperoleh pupuk urea bersubsidi. Pada pertengahan bulan Juni sampai awal bulan
Juli, petani harus berjibaku agar tanaman padinya bisa dipupuk tepat
waktu. “Saya harus mencari pupuk sampai
ke wilayah lain, agar bisa memupuk tanaman padi tepat waktu” Kata Suwarno,
Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) Desa Kalimanah Wetan Kecamatan Kalimanah. “Kalo tidak seperti itu, nanti telat dan bisa
mupuk padi pada umur 40 hari, itu yang terjadi pada petani petani disini” lanjutnya.
Beruntung sebagai
petani yanmg telah menerapkan pola PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) sehingga
petani maju yang juga pengusaha penggilingan padi tidak begitu terganggu dengan
kelangkaan pupuk urea, karena dia sudah menggunakan pupuk organik dan juga pupuk
majemuk NPK (merek phonska). Menurutnya,
sulitnya memperoleh pupuk urea telah membuat penggunaan pupuk NPK meningkat,
baik saat pemupukan pertama maupun pemupukan susulan. “Tadinya kebanyakan petani sudah minded menggunkan pupuk urea, bahkan
dosinya bisa mencapai 500 kg per hektar, dan enggan menggunakan pupuk P dan
K” Kata Suwarno berapi api. “Dengan adanya kelangkaan pupuk, mereka terpaksa
menggunakan pupuk NPK untuk tanaman padinya, karena mudah diperoleh di toko
pengecer” Lanjutnya.
Kelangkaan pupuk
urea pada tahun ini di Kecamatan Kalimanah, ternyata telah menjadi berkah
tersembunyi bagi petani. Pada saat musim
panen padi musim Sadon (MK 1) rata-rata produktivitas padi meningkat, demikian
disampaikan oleh Farid Wajdi, SP, Kepala BPK Kalimanah pada berbagai
kesempatan. Pada musim tanam selanjutnya
diharapkan petani tidak hanya menggantungkan kebutuhan pupuknya pada pupuk
urea, tetapi sudah melakukan pemupukan berimbang, sehingga produktivitasnya
meningkat. (HP 002)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar